Warga Geruduk Balai Desa, Kasun Imron dan Wakasunnya Patut Di Copot Dari Jabatannya

Teropongindonesianews.com

Jember. Selain permasalahan pemberhentian Ketua RT/RW di Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember yang dilakukan oleh Kepala Dusun Pondok Jeruk, Di desa/kecamatan yang sama di gelar juga pemilihan penggantinya, hal ini dianggap sebagai ulah ilegal pribadi secara sepihak dan dianggap merupakan arogansi kekuasaan Imron Rosyadi selaku Kasun Pondok Jeruk, Desa Wringin Agung

Langkah Kasun tersebut dinilai banyak pihak telah melanggar peraturan yang ada sehingga apa yang telah dilakukan Imron sang Kasun itu mendapatkan perlawanan dan protes keras hingga terjadi aksi demo dari pihak terkait karena ada beberapa orang atau warga merasa dirugikan.

Warga Desa Wringin Agung merasa Di rugikan dan mearasa Resah, apalagi menurit beberapa nara sumber di tambahkan bahwa di lingkungan warga telah mencuat ‘aroma tidak sedap’ lain bahwa Imron juga di duga telah melakukan Pungli (Pungutan Liar) terhadap warganya yang menurut keterangan beberapa Nara Sumber di katakan bahwa saat itu warga akan menggelar hajatan di musim pandemi covid-19 ini dan hal ini harus

mendapatkan ijin acara dari Imron.

Masyarakat Desa Wringin Agung merasa tidak puas dengan pemberhentian ketua RW 22, yang dilakukan oleh Imron Rosyadi, Kepala Dusun Pondok Jeruk, Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jember, secara sepihak, tanpa alasan yang jelas, tanpa melalui prosedur yang sesuai regulasi. Sehingga, beberapa hari yang lalu, pada tanggal 25/03/2021, puluhan warga geruduk kantor Desa untuk menuntut kejelasan dan keadilan.

Kepada wartawan, Kepala Desa Wringin Agung dan Camat Jombang berserta Jajarannya, Imron mengakui bahwa pemberhentian ketua RW dan diadakannya voting pemilihan penggantinya atas kehendaknya sendiri, karena kekurang pahamannya terhadap masalah aturan itu, bagaimana mekanisme terjadinya pengangkatan dan pemberhentian RW kurang paham,
“Kami tidak koordinasi dengan pihak desa maupun muspika, dan ini sebagai pembelajaran bagi kami.” Ujar Imron

“Saya bersalah, terlalu menuruti keinginan warga. Disitu kami kurang paham aturan main RT / RW, Saya minta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan, Sekarang saya pasrahkan ke kepala desa, soalnya kami tidak punya wewenang soal itu. dan ini kami lakukan sebenarnya berniat meredam warga, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan menjadi lebih besar.” Lanjutnya.

Lebih jauh Imron menerangkan, terkait kisah yang mencuatkan soal pungli yang selama ini di tuduhkan kepadanya.
“Itu berawal dari salah seorang warga datang ke rumah saya, berniat hendak hajatan, lalu kami koordinasi dengan Polsek, kemudian saya ke rumah yang bersangkutan untuk memberikan arahan terkait pelaksanaan hajatan sesuai protokol kesehatan, setelah saya
pamit pulang dan di salam tempeli, kami ndak mau tapi dipaksa, ” jelas Imron.

“Ini pak untuk beli rokok, untuk menghargai, amplop tersebut kami terima, yang semula isinya kami tidak tahu, Namun sesampainya di rumah kami buka amplop itu, ternyata ada isinya uang sebesar 600 ribu.” Lanjut Imron rosyadi kasun pondok jeruk.

Sementara PLT Camat Jombang Bastomy, ketika dikonfirmasi menjelaskan, Permasalahan tentang penonaktifan dan pemilihan RW 22 yang dilakukan oleh kasun dan wakasun itu ternyata tidak prosedural, artinya kasun itu melakukan pemberhentian dan pemilihan secara sepihak tanpa pemberitahuan ke pihak desa. Atas kejadian ini kepala desa merasa kecolongan.

Padahal di dalam pemilihan RT RW ada mekanisme nya,
“Saya minta kepada kasun dan wakasun hendaknya jangan melakukan kegiatan yang bertentangan dengan aturan yang ada” jelas Fakhrul Asrori, Kepala Desa Wringin Agung dalam kesempatan yang sama

“Kami juga mengklarifikasi terkait pungli 600 ribu yang di lakukan oleh kasun itu tidak benar, karena uang sejumlah itu diberikan secara iklhas yang bersangkutan tanpa ada embel-embel.” lanjut Fakhrul Asrori

“Itu diberikan untuk uang rokok. Kalau nilainya dianggap terlalu banyak saya kurang tahu persis, tapi gak ada istilah tekan menekan. Ini menurut pengakuan pak kasun.” Tambahnya lagi.

Disisi lain, “Namun yang pasti, mendapatkannya ijin menggelar hajatan ditengah pandemi seperti ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kecurigaan. Kecurigaan semakin kuat jika melihat uang rokok yang nilainya sebesar itu. Padahal, acara apapun yang berakibat akan menimbulkan kerumunan warga, rawannya penularan covid-19, berpotensi akan ada pelanggaran protokol kesehatan jelas sudah dilarang.
Kira2, ada kaitan enggak uang 600.000,- itu dengan keluarnya ijin hajatan dan masuk akal sehat tidak, jika uang rokok saja mencapai 600.000,-?, silahkan nilai dan simpulkan sendiri, ada indikasi pungli dan kebohongan publik nggak?” Terang salah satu warga peserta aksi yang berpesan namanya dirahasiakan
“Jadi. Wajarlah jika warga berharap pemimpim yang baru, pemimpin yang pandai, jujur dan amanah. Sehingga wajar pula jika seharusnya Kasun Imron dan Wakasunnya Dicopot saja” pungkasnya.(Santoso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *