BUPATI JEMBER SIDAK GUDANG TERBENGKALAI

Teropongindonesianews.com

Jember – Bupati Jember saat ini Hendy Siswanto bersama Wakil Bupati KH Muhamad Balya Firjaun Barlaman menyambangi Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung. Mereka ke lokasi Resi Gudang yang telah mangkrak.

Bahkan, duet pejabat yang mulai bertugas pada akhir Pebruari 2021 itu dikejutkan dengan temuan di dalam resi gudang. Fasilitas yang semestinya dipakai untuk menyimpan stok panen pertanian tersebut, kini dalam kondisi terbengkalai dan justru dibuat menaruh ratusan paket peralatan yang gagal dibagikan kepada masyarakat.

Berbagai peralatan itu merupakan hasil beberapa kali pengadaan Disperindag Jember pada tahun-tahun sebelumnya. Namun, lantaran batal didistribusikan malah tertumpuk begitu saja berbalut debu tebal dalam ruangan resi gudang.

“Sayang sekali kalau sampai ada aset yang seharusnya bisa bermanfaat, tapi dibiarkan mangkrak,” ucap Bupati Hendy usai menyusuri tiap ruangan resi gudang dan melihat langsung kondisi gudang.

Wartawan Teropong indonesia.news berupaya mengkonfirmasi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Disperindag Jember Widodo Julianto. Yang bersangkutan mengaku membutuhkan waktu lebih lanjut untuk menyampaikan rincian barang dalam resi gudang, saya akan mencoba mendata barang barang apa saja yang ada gudang tersebut karna cukup lama berada di sana, dan saya sendiri baru menjabat belum satu bulan , himbaunya.

Berdasarkan catatan, memang resi gudang tidak maksimal dioperasikan sejak dibangun tahun 2012 silam. Selama satu dekade dengan dua masa kepemimpinan Bupati Jember MZA Djalal maupun setelah beralih tangan ke Bupati Jember Faida, nasib resi gudang sama saja mangkrak.
Yang di bangun dengan menelan biaya sebesar, Rp 5,6 miliar.

Tanggal 29 Oktober 2014 digelar operasional perdana berikut ditandai dengan acara peresmian oleh Sekretaris Daerah jember Sugiarto ketika itu.

Disperindag pada waktu itu juga mengumumkan bahwa telah mendapat ijin resmi dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Jawa Timur bagi Kabupaten Jember untuk menjalankan sistem resi gudang (SRG) .

Kapasitas resi gudang bisa menampung komoditas hasil pertanian sampai 2.000 ton. Isi gudang itu direncanakan hanya untuk komoditas kualitas A karena kapasitasnya yang besar serta dilengkapi dengan alat pengering gabah.

Tujuan resi gudang sejatinya guna menaikkan posisi tawar petani terhadap tekanan harga pasar. Sederhananya, semisal petani sudah panen, tapi komoditasnya dihargai murah maka petani bisa menunda penjualan dengan cara menyimpan hasil panennya.

SRG bagi petani bermanfaat untuk memperoleh fasilitas bantuan finansial berupa uang pembayaran sekitar 70% dari bank yang digandeng Disperindag. Sehingga, disamping hasil pertanian tidak terjual murah, petani memiliki modal lagi untuk dipakai bercocok tanam.

Seabreg konsep besar itu rupanya tidak berjalan, hingga membuat resi gudang teronggok tak terpakai. Semasa Bupati Faida, ruangan yang ada digunakan untuk menyimpan hasil belanja hibah barang Disperindag.

Ironisnya, berbagai peralatan tersebut tidak jua disalurkan kepada masyarakat. Terjadi perselisihan antara Bupati Faida dengan Disperindag mengenai sasaran penerima barang. BPK yang mengaudit berkali-kali merekomendasikan pendistribusian barang sepertinya tidak digubris. Sampai akhirnya benar-benar pengadaan dari uang rakyat itu terkatung-katung hingga sekarang.(Santoso/Zubaidah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *